Pages

FBI Keluarkan Peringatan Ancaman Al Qaeda

R. Adhi Kusumaputra | Robert Adhi Ksp | Minggu, 4 September 2011 | 15:06 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — FBI dan Keamanan Nasional Amerika Serikat telah mengeluarkan peringatan nasional tentang ancaman Al Qaeda terhadap pesawat-pesawat kecil, beberapa hari menjelang peringatan 10 tahun serangan teroris pada 11 September.


Pihak berwenang Amerika seperti dikutip The Sunday Times,  Minggu (4/9/2011), mengatakan, tidak ada ancaman teroris yang spesifik ataupun yang kredibel pada peringatan 10 tahun serangan terhadap World Trade Centre dan Pentagon. Namun, mereka telah meningkatkan keamanan nasional sebagai langkah pencegahan.


Peringatan, yang dikeluarkan menjelang akhir pekan lalu, menyebutkan teroris kemungkinan menyewa pesawat pribadi dengan muatan bahan peledak.

Gempa 4,3 SR Guncang Barat Daya China

R. Adhi Kusumaputra | Robert Adhi Ksp | Minggu, 4 September 2011 | 13:11 WIB

BEIJING, KOMPAS.com — Gempa bumi berkekuatan 4,3 skala Richter mengguncang wilayah perbatasan antara kota Dujiangyan dan Wenchuan di barat daya Provinsi Sichuan, China, Minggu (4/9/2011) pukul 12.13 waktu Beijing.

Pusat Jaringan Gempa Nasional China seperti dikutip Shanghai Daily hari Minggu siang menyebutkan, pusat gempa berada di kedalaman 15 km pada posisi 31,3 derajat Lintang Utara dan 193,6 derajat Bujur Timur.

Wenchuan pernah diguncang gempa berkekuatan 8,9 skala Richter pada 12 Mei 2008 silam, yang menewaskan 87.000 orang.

Dua Korban Tewas Jatuhnya Pesawat Ringan

KOMPAS.com — Sebuah pesawat ringan Yak-52 jatuh di Yegoryevsk, sekitar 50 kilometer dari ibu kota Rusia, Moskwa. Insiden pada Jumat (26/8/2011) itu sebagaimana warta Xinhua mengakibatkan sedikitnya dua korban tewas.

Pihak berwajib yang melakukan investigasi berkesimpulan kalau pesawat naas tersebut gagal terbang lebih tinggi. Pesawat itu kemudian terempas ke landasan.

Kecelakaan ini, selama Agustus, adalah kecelakaan fatal keempat yang terjadi di Rusia. Total korban tewas selama kecelakaan-kecelakaan tersebut ada sepuluh orang.
 

Bus Terjun ke Sungai di India, 15 Orang Tewas

R. Adhi Kusumaputra | Robert Adhi Ksp | Minggu, 4 September 2011 | 18:34 WIB

MUMBAI, KOMPAS.com — Sedikitnya 15 orang tewas setelah bus yang mereka tumpangi terjun ke sungai di Negara Bagian Uttarakhand di India utara, Minggu (4/9/2011).

Sementara delapan orang masih hilang dan 12 orang luka-luka dilarikan ke rumah sakit terdekat.

Hingga sore tadi, bus itu belum dapat ditemukan dan usaha pencarian korban yang hilang masih terus dilakukan.

Bus naas itu sedang dalam perjalanan ke Dehradun dari Katiyal ketika terjun ke dalam sungai.

Yunani Akan Jual Kilang Minyaknya

ATHENA, KOMPAS.com- Pemerintah Yunani segera menjual kepemilikan sahamnya di kilang minyak terbesar di negeri itu, Hellenic Petroleum, dalam waktu dekat ini, atau lebih cepat dibandingkan rencana sebelumnya. Penjualan ini merupakan bagian dari pertukaran kebijakan dengan langkah penalangan yang dilakukan Dana Moneter Internasional atau IMF dan Uni Eropa senilai 110 miliar euro untuk menekan dampak krisis keuangan di kawasan itu.

"Rencana kami untuk Hellenic Petroleum adalah menjual kepemilikan saham pada triwulan pertama 2012 atau lebih cepat lagi," ujar Menteri Lingkungan Yunani George Papaconstantinou kepada surat kabar Yunani di Athena, Sabtu (3/9/2011), seperti dilaporkan kantor Berita Reuters.

Yunani menargetkan pendapatan 50 miliar euro dari hasil privatisasi hingga tahun 2015. Salah satu sumber pendapatan itu adalah privatisasi atas 35,5 persen saham di Hellenic Petroleum.

Hellenic Petroleum beroperasi sebagai kilang minyak di Yunani dan kawasan Macedonia. Nilai kapitalisasi pasar Hellenic Petroleum adalah 1,8 miliar euro.

Selain menjual Hellenic Petroleum, program privatisasi lain yang sudah masuk ke daftar pemerintah Yunani adalah penjualan 55 persen saham pada perusahaan gas alam DEPA.

Selain itu, penjualasan saham di operator penambang gas alam sebanyak 31 persen DESFA. Keduanya diharapkan akan terjual pada triwulan IV 2011. 

Istana Presiden Hemat Penggunaan Air

Hindra Liu | A. Wisnubrata | Jumat, 2 September 2011 | 14:02 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Ambrolnya pintu limpasan saluran pembuangan Tarum Barat/Kalimalang ke saluran Kali Buaran berikut sebagian tanggulnya di Pondok Kelapa, Duren Sawit, Jakarta Timur, sejak Rabu (31/8/2011) malam, membuat pihak Istana Kepresidenan, Jakarta, melakukan penghematan air.

Pasokan air untuk Istana Kepresidenan dan Istana Wakil Presiden, Kantor Gubernur DKI Jakarta, serta Gedung DPR RI turut terganggu akibat ambrolnya pintu limpasan dan tanggul tersebut. "Upaya penghematan air dilakukan seraya mengimbau lingkungan Istana Kepresidenan untuk (menggunakan air) seperlunya saja," kata Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha kepada para wartawan, Jumat (2/9/2011).

Pada Jumat ini, menurut keterangan seorang petugas Palyja, Odor Hutabarat, Palyja telah memasok air sebanyak dua kali. Pada setiap pengiriman, truk air Palyja membawa 10.000 liter air. Sementara itu, pada Kamis malam kemarin, perusahaan air tersebut telah memasok air sebanyak 15 kali atau setara 150.000 liter air. Dengan demikian, sejak Kamis malam hingga Jumat ini, Palyja telah memasok sekitar 170.000 liter air.

Julian mengatakan, pelaksanaan penghematan air berhasil sehingga Istana Kepresidenan tidak mengalami kekurangan pasokan air. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun tak berencana berkantor di kediamannya di Puri Cikeas Indah akibat keterbatasan pasokan air ini.

Julian mengatakan, Istana Kepresidenan menerima informasi bahwa kerusakan pintu limpasan dan sebagian tanggul tersebut akan diperbaiki Ditjen Cipta Karya dan Kementerian Pekerjaan Umum selama tiga hari. Di ruang wartawan Istana Kepresidenan, yang kerap disebut bioskop, aliran air mati. Petugas di sana hanya menyediakan sebuah ember berisi air.

Husin Sitorus Bebas Hukuman Gantung

JAKARTA, KOMPAS.com - Majelis hakim Mahkamah Rayuan (Mahkamah Agung) Malaysia menjatuhkan vonis bebas dari hukuman gantung, dalam kasus narkotika kepada kapten kapal barang Husin Sitorus (62), warga Kabupaten Batubara, Sumatera Utara. Hakim menilai dakwaan jaksa lemah, karena tak pernah meminta kesaksian tiga orang yang juga berada di kapal yang sama.

Demikian disampaikan pengacara Husin Sitorus, Sebastian Cha, dari Kuala Lumpur, Malaysia, Jumat (26/8/2011). Sebastian merupakan pengacara yang aktif membela hak buruh migran di semenanjung Malaysia.

Husin Sitorus ditangkap pada 22 Oktober 2004, saat mengendalikan kapal barang di perairan Selat Klang Selatan, Malaysia. Dia dituduh terlibat penyelundupan ganja 143,9 kilogram yang ditemukan di kapalnya.

Majelis hakim Mahkamah Tinggi Shah Alam, Selangor, menjatuhkan hukuman mati. Sebastian kemudian mendaftarkan kasasi ke Mahkamah Rayuan di kompleks pemerintahan Malaysia di Putrajaya.

Majelis hakim Mahkamah Rayuan yang terdiri atas Datuk Ramly bin Haji Ali, Datuk Azahar bin Haji Ma'ah, dan Datuk Syed Helmy bin Syed Ahmad kemudian mendengarkan penjelasan Sebastian pada Kamis (25/8/2011).

Majelis memandang Husin Sitorus tidak bisa dimintai pertanggungjawaban terhadap keberadaan ganja, karena jaksa tak pernah memintai kesaksian tiga orang lain yang ada di kapal Husin.

Berdasarkan temuan ini, majelis hakim Mahkamah Rayuan menyatakan jaksa gagal membuktikan dakwaan primer kasus Husin Sitorus. Majelis memerintahkan agar vonis Mahkamah Tinggi dikesampingkan.

Menurut Sebastian, pejabat Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kuala Lumpur segera berkomunikasi dengan pejabat imigrasi setempat, untuk mengurus pemulangan Husin ke Tanah Air.